Minggu, 20 Desember 2015

Give Me A Reason


GIVE ME A REASON
Ulin Nurviana


Perumahan Ambassador Gading Serpong, Jakarta.
Kutarik napas panjang. Rasanya seluruh sendi-sendi dalam tubuhku hendak mencair karena kondisi menegangkan ini. Lima belas menit berlalu tanpa kata. Suasana seketika membisu, begitupun perabotan rumah yang ada di dalamnya. Ruang 6x5 meter itu tak mampu menutupi keheningan yang sejak tadi menusuk nurani.
Kembali kutarik nafas tanpa berani mengangkat kepala. Sudah sejak aku datang dan duduk tak jauh darinya kutundukkan kepala. Bukan karena takut, tapi sebagai bentuk caraku menghormatinya. Dengan bermodal niat kuberanikan diri untuk datang ke rumahnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah keturunan nenek moyangku, seorang perempuan datang ke rumah laki-laki untuk melamar, dan pencetak sejarah itu adalah aku. Meskipun tradisi melamar laki-laki seperti ini sudah ada pada zaman Rosulullah, tapi tetaplah masih menjadi hal tabu untuk saat ini.
Seperti bencana. Aku tidak bisa menolak permintaan guru ngajiku untuk segera menggenapkan separuh Din. Pasalnya aku yang harus datang untuk meminta berta’aruf, bukan dia sebagai laki-laki. Aku tidak tau alasannya apa, tapi jika melihat dari fisik lelaki itu, aku yakin ia punya kemampuan untuk datang padaku. Namun entah kenapa hari itu bu Halimah –guru ngajiku– memaksaku yang datang padanya. Tanpa alasan yang jelas, dan aku tak bisa menolaknya, mengingat umurku sudah seperempat abad.
“Apakah Anda mengenal Saya?”
Praakk..
Jantungku seperti pecah menimpa wajahku. Pertanyaan itu nyaris membuat sekujur tubuhku terkulai lemas. Kalau bukan karena desakkan dari guru ngajiku, aku tidak akan datang ke sini untuk melengkapi tulang rusukku. Ini namanya mempermalukan diri sendiri.
Kucengkeram kedua tangan yang tertumpu di atas lutut. Keringat dingin mulai merambat-rambat dalam tubuhku. Jilbab yang kukenakan rasanya seperti handuk, tak lagi nyaman dipakai.
“Begini Nak..” bu Halimah mulai angkat bicara.
“Mungkin Pak Radit sudah membicarakan hal ini kepada Dek Alvin terkait permintaan untuk segera menggenapkan separuh Din.” bu Halimah nampak tenang dengan serentetan kalimat yang menurutku akan menenggelamkan tubuhku ke dasar bumi.
Kuangkat kepala untuk melihat reaksi dari lelaki jangkung itu, dan dia mengangguk-angguk. Entah kenapa dia merasa tenang di saat genting seperti ini. Apakah kedatangan seorang perempuan untuk melamar laki-laki adalah hal biasa baginya? Aku hanya bisa menelan ludah yang terasa pahit.
Matanya mulai menangkap wajahku, dan segera kualihkan pandangan. Makin tegang saat telingaku mulai menangkap kembali suara bariton itu.
“Anda seorang Penulis ya?”
Suasana mencair daripada sebelumnya. Setidaknya pertanyaan itu lebih terkesan santai, dan aku tersenyum mengangguk sebagai jawaban.
“Sudah terkenal ya, sering melihat nama Anda di beberapa buku.” Katanya yang sedikit membuatku melambung. Entah kenapa pujian itu memberi pengaruh besar pada hatiku, meskipun aku baru mengenalnya.
“Tapi sepertinya saya tidak bisa menerima Anda.”
Praakkk..
Kembali jantungku seperti pecah. Dia menolakku. Apa alasannya? Hanya senyum penuh tanda tanya yang ia lempar padaku. Seolah-olah aku tidak merasa malu dengan keadaan yang ia ciptkan ini. Aku mulai menahan napas. Berusaha mengabaikan apa yang telah terjadi dan mengangguk begitu saja. Tak ada suara yang ingin kukeluarkan. Sifat penurutku masih mendominasi, dan kadang membuatku terasa makin bodoh. Toh permintaan ini juga atas dasar keinginna guru ngajiku, jadi aku tidak perlu merasa sakit hati. Lagian kita juga baru pertama kali bertemu.
Kulempar pandanganku pada pak Radit yang duduk di sebelah lelaki bernama Alvin itu. Pak Radit melihatku penuh rasa bersalah. Tentu, karena semua pertemuan ini atas keinginan beliau juga.
“Alasannya apa, Dek Alvin?” tanya pak Radit
Aku cukup tertohok mendengarnya. Jadi pak Radit juga belum tau kepastian atas rencananya ini? Jadi ia hanya sekedar memintaku datang, sedang jawaban sepenuhnya masih disimpan mas Alvin. Ya Tuhan, aku merasa dipermainkan. Kalau begitu kenapa tidak mas Alvin saja yang datang padaku atau cari lelaki yang jelas menerimaku. Ini sangat konyol, tapi lagi-lagi aku tak mampu bersuara. Kutahan emosiku yang nyaris meledak. Berusaha yakin kalau mereka punya alasan yang jelas.
“Aku yakin Mbak Via orang yang sangat sibuk. Sebagai penulis pastilah ia punya aktivitas segudang. Apalagi namanya sudah dikenal di kalangan pembaca. Saya rasa dengan kesibukan seperti itu, sudah cukup menjadi alasan dari jawaban saya.” Jelasnya
Kini tubuhku benar-benar memanas. Dia menolak hanya karena aktivitasku sebagai penulis? Memang dia tau aku sejauh mana? Jujur saja aku sering kehilangan kendali saat ada orang yang merendahkan aktivitasku menulis. Namun untuk kali ini kucoba bertahan. Setidaknya sampai aku mendapat alasan yang benar-benar jelas. Buatku tidak logis jika dia menolakku hanya karena aku seorang penulis.
“Bolehkah saya bertanya?”
“Tentu saja, Mbak.”
“Sebelumnya saya sangat minta maaf telah menganggu aktivitas Mas Alvin hari ini, tapi kedatangan kami ke sini tentu dengan maksud baik, karena itu bisakah saya mendapat alasan yang lebih jelas?”
Lelaki itu tertegun. Bisa kusaksikan guratan rasa bersalah mewarnai wajahnya. Ia menarik napas dan diam sejenak. Diam beberapa saat untuk sekedar menatapku. Aku tidak tau apa yang tersimpan di otakknya, tapi tatapan itu terasa hangat buatku. Tidak ada sebersit keinginan untuk marah atau membenci atas penolakannya.
“Saya akan ceritakan semua pada Mbak Via. Jujur saja, saya yang meminta Pak Radit untuk dicarikan seorang istri, tapi saya tidak bisa jika harus datang ke rumahnya karena suatu alasan, dan saya juga baru tau setelah melihat Mbak Via, bahwa seseorang yang datang pada saya adalah penulis yang cukup besar namanya. Bukan saya bermaksud buruk, tapi saya takut Mbak Via kecewa dengan saya. Saya takut pula Mbak Via tidak bisa menjalani aktivitas Mbak sebagai penulis setelah menikah nanti.” Jelasnya dengan sopan.
Airmataku mengancam keluar. Apakah sebegitu tinggi profesi seorang penulis, sehingga banyak yang takut memiliki istri seorang penulis. Lagi-lagi aku tidak bisa menerima alasan ini. Jelas aku menolak. Kenapa dia tidak bilang pada pak Radit kalau dia tidak menginginkan wanita yang berkarir di dunia literasi? Kenapa pula dia tidak memastikan terlebih dahulu siapa wanita yang datang padanya, sehingga aku tidak merasa dipermalukan seperti ini.
“Apakah profesi saya begitu menakutkan bagi Mas Alvin?” tanyaku
Dia terdiam mengalihkan pandangan. Aku merasa ada yang ia sembunyikan. Entah apa, tapi dari raut wajahnya aku bisa melihat ada beban berat yang sedang ia tahan agar tidak tumpah.
“Mas, saya memang seorang penulis. Aktivitas saya memang sangat banyak, bahkan mungkin padat, tapi ketika saya benar-benar berniat untuk menikah, maka ketika itu saya telah mempersembahkan seluruh waktu saya pada suami. Biarkan dia yang memberi saya waktu untuk berkarya, karena ketika ijab dan qabul itu telah terjadi, maka ketika itu hidup saya adalah miliknya.” Airmataku tumpah. Kalimat itu meluncur begitu saja, dan jujur ada yang sesak.
“Ya Allah, semua kembali padaMU.” Suara itu terdengar serak, dan kuketahui bahwa mas Alvin menangis tertunduk sambil mengusap wajahnya.
Aku semakin tidak mengerti. Ketika aku dalam kondisi seperti ini, justru bu Halimah dan pak Radit diam tertunduk pula. Aku yakin mereka menyimpan sesuatu.
“Jujur saya masih butuh alasan yang lebih jelas.”
“Mbak Via.” Lelaki itu mengangkat wajahnya. Matanya sembab dan wajahnya nampak lelah.
“Bolehkan saya bicara berdua dengan, Mbak?” tanya mas Alvin
Aku sempat terdiam beberapa saat sambil menatap bu Halimah. Aku butuh izin darinya, dan telah mendapat izin, barulah aku bisa mengangguk.
oOo

Kuikuti saja langkah mas Alvin menuju pintu belakang rumahnya yang cukup besar. Di belakang rumah itu terdapat kolam renang dan taman yang cukup luas untuk bermain anak-anak. Kolam yang jernih berwarna biru sedikit menghanyutkan imajinasiku yang ingin menceburkan diri di sana. Di sudut halaman terdapat gazebo dengan kursi melingkar. Suasana halaman belakang nampak jauh lebih alami dari pada halaman depan, meskipun memiliki kolam ikan di samping garasi mobil.
“Akan saya kenalkan Mbak Via pada seseorang.” Katanya sambil berjalan, dan aku hanya mengangguk.
Aku masih berjalan di belakangnya, kami berjalan melewati koridor hingga berhenti di depan pintu besar di samping tangga. Pintu ini menghadap langsung pada kolam renang, dan di depan pintu terdapat dua kursi dan satu meja yang terbuat dari kayu.
“Apakah ini kamar seseorang?”
Mas Alvin menatapku sejenak, lalu menarik napas dalam-dalam. Lagi-lagi ada goresan kesedihan yang terpancar jelas dari wajahnya.
“Akan kuungkapkan semua alasan pada Mbak Via, dan saya berharap Mbak bisa mengerti ketika semua telah terbuka.”
Aku mengerutkan alis, makin tidak faham. Namun hanya bisa mengangguk.
Dibalik pintu itu pasti tersimpan semua alasan yang kuharapkan. Perlahan mas Alvin menarik engsel pintu, dan udara hangat mulai berhembus dari dalam ruang yang nampak sedikit gelap itu. Pintu semakin terbuka lebar, gambaran keadaan kamar itu mulai terlihat, dan seketika itu aku tertegun melihat seseorang yang berbaring di atas ranjang.
Perlahan kuikuti langkah mas Alvin mendekati seseorang itu, dan kami berdiri di samping ranjangnya. Tarikan napas kuat dari mas Alvin terdengar di telingaku. Aku tidak tau siapa orang tersebut, tapi aku merasa tidak asing dengan wajahnya. Model wajah oriental dengan alis yang tebal.
“Dia Mas Ryan. Apakah Mbak ingat?”
Degg. Untuk yang ketiga kalinya jantungku beraktivitas tiga kali lebih cepat dari sebelumnya. Ryan? Aku mengenal nama itu. Berusaha kuputar memoriku kembali, hingga akhirnya aku mendapat jawaban siapa dia. Ya, Ryan adalah salah satu penggemar novel-novelku. Beberapa kali ia datang di acara bedah buku dan seminar menulis yang kuisi di beberapa tempat. Aku ingat betul terakhir kali melihatnya, ia meminta tanda tanganku saat kami berjumpa di Gramedia Matraman Raya.
“Saya ingat.” Jawabku sambil menatap wajah pucatnya.
Mas Alvin tersenyum, lalu menggeret kursi dan duduk di sampingnya.
“Mas Ryan ini kakak saya. Dia sangat mengagumi Mbak Via. Dia memiliki semua novel yang Mbak tulis, bahkan ratusan antologi milik Mbak ia punya. Ia begitu mengagumi Mbak hingga pada suatu hari, ia meminta Pak Radit untuk melamarkan dia pada Mbak.”
Tenggorokanku tercekat. Ceritanya semakin sulit kuterima.
“Maksudnya?” tanyaku menahan napas.
“Sebenarnya yang ingin menikah dengan Mbak adalah Mas Ryan, dan inilah alasan kenapa dia tidak bisa datang ke rumah Mbak, dan ini pula alasan kenapa saya menolak kesepakatan ini.” Jelasnya membuat tubuhku terkulai lemas.
Entah kenapa tiba-tiba airmataku meluncur.
“Saat ia hendak datang ke rumah Mbak, kecelakaan terjadi hingga membuatnya seperti ini. Jujur saya tidak berani mengatakan semua ini pada Pak Radit, melihat ia begitu berantusias untuk membantu Mas Ryan. Saya baru bisa mengabarkan semua sehari sebelum Mbak datang ke rumah ini.”
Tubuhku terjatuh di samping ranjang. Jadi musibah itu karena aku. Seperti ada batu granit yang menimpa dadaku. Sesak, dan ada yang nyeri.
“Sebulan lalu, Mas Ryan mencari-cari seseorang yang bisa membantunya untuk datang ke rumah Mbak. Atas saran dari temannya, Mas Ryan mendapat nomor telpon Pak Radit. Meminta bantuan itu lewat telpon, tapi di perjalanan menjemput Pak Radit untuk melamar Mbak, kecelakaan itu terjadi. Sejujurnya Pak Radit tidak tau apa-apa tentang kondisi Mas Ryan, juga belum mengetahui seperti apa sosok Mas Ryan. Setelah kejadian itu sayalah yang melanjutkan rencananya. Meskipun sedikit berantakan. Untuk penolakan tadi, itu hanya cara saya untuk menilai seperti Mbak Via. Jadi saya sangat memohon maaf.”
“Lalu, untuk apa, Mas masih meminta saya datang ke sini?” suaraku sedikit tertahan.
“Karena saya ingin Mbak menikah dengannya.”
Aku kaget mendengar jawaban itu. Seketika tubuhku berdiri dan menatapnya tajam. Bagaimana bisa ia memutuskan semudah itu? Apakah dia pikir aku ini barang yang bisa dilempar sesuai keinginan dia. Jujur, aku tidak tau bagaimana perasaan lelaki yang bernama Ryan itu, juga bukan keinginanku hingga ia seperti ini. Namun sebersit rasa bersalah merayap-rayap dalam hatiku.
“Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa meneruskan cerita ini.” Putusku lalu bergegas pergi meninggalkan kamar itu. Aku tidak peduli beberapa kali dia memanggil. Bagiku ini sangat konyol. Tidak logis sama sekali. Seolah-olah aku tokoh utama dalam sebuah sinetron.
Tidak ada yang bisa dipercaya. Aku merasa seperti boneka bagi mereka semua. Fine, aku memang sangat menghormati guru ngajiku, tapi aku merasa sedikit kecewa dengan kejadian ini. Tidak seharusnya mereka menutupi semua dariku. Pak Radit telah mengetahui kejadian pada mas Ryan sehari sebelum aku datang, tapi dia tetap membiarkanku datang hingga mengalami penolakan dari mas Alvin. Di lain hal aku bertemu sosok mas Ryan yang masih dalam kondisi koma. Apalagi alasan dia seperti itu karena kecelakaan ketika hendak mengajakku ta’aruf. Ya Tuhan, rasanya aku ingin menenggelamkan diriku ke dasar bumi, dan membuag jauh memori hari ini.
oOo

Blok B Pamulang, Tanggerang
Sejak peristiwa itu aku sedikit pendiam. Sepertinya setengah dari semangatku hilang entah kemana. Bu Halimah sempat meminta maaf atas kejadian itu. Aku berharap semua segera pergi dari otakku, tapi aku salah besar, justru wajah  mas Ryan melayang-layang dalam mimpiku. Untuk menghapus semua itu, akau hanya bisa terus menyibukkan diri dengan pekerjaanku sebagai penulis dan editor di salah satu penerbit besar di Jakarta. Sedang ketika di kontrakan, aku merusaha melakukan kegiatan apapun, entah memasak atau bersih-bersih.
“Aku yakin lelaki itu tak bermaksud buruk, Vi.” Kata Dania teman sekontrakanku yang telah kuceritakan semua.
Aku hanya tersenyum tipis. Mungkin, tapi aku merasa ada yang perih.
“Tapi, apakah kau tidak ingin memberi kesempatan pada Ryan?”
Pertanyaan itu membuat aktivitasku mencuci piring tertahan. Sebelumnya aku sempat berfikir begitu, tapi aku tidak begitu yakin dengan semua alasan yang mas Alvin berikan. Aku takut ia hanya mengarang cerita. Tapi untuk apa?
“Kupikir tujuan Alvin baik, Vi. Mungkin ia sempat menolak karena mengetahui kesibukanmu, sehingga ia tak yakin kamu mau dengan kakaknya yang masih dalam kondisi koma. Namun setelah ia mendengar pendapat kamu terkait sebuah pernikahan, ia mempertimbangkannya kembali. Kupikir begitu.” Cecer Dania sambil mengupas kentang di dapur kami yang sempit.
Piring di tanganku terlepas dan jatuh ke dalam bak yang berisi air. Ya Allah, kenapa aku tak berpikir sejauh itu. Ketika itu pandangan mas Alvin memang berubah setelah aku menjelaskan niatku untuk menikah, mungkin dari situ ia ingin aku menemui langsung kakaknya.
Kutarik napas dalam-dalam. Begitu kejamkah aku jika mencoba menutup mata atas kejadian ini. Mungkin rumit, apalagi dengan alasan mas Alvin yang simpang siur, tapi setelah melihat sosok mas Ryan yang terkulai tak berdaya membuat separuh jantungku berhenti beraktivitas, dan tanpa kusadari airmataku meluncur.
Jika melihat niat awalku untuk menikah, maka tidak sepatutnya aku mengabaikan semua ini. Toh semua juga bagian dari rencana Allah, hanya saja ia balut amat rumit. Saat ini yang tersisa hanya penyesalan, tapi aku juga tidak berani untuk datang kembali ke rumah itu. Aku pun tidak tau bagaimana kondisi mas Ryan sekarang. Sudah seminggu berlalu setelah peristiwa itu. Aku tak yakin rumah itu masih mau menerima kedatanganku.
“Vi, ada tamu buatmu.” Kata Siska –teman sekontrakan juga– yang baru memasuki dapur.
“Tamu?” aku mengerutkan alis.
“Dua laki-laki. Satunya memakai kruk.”
Aku kaget dan spontan langsung berdiri. Pikiranku tertuju pada dua bersaudara itu. Tanpa pikir panjang aku memakai jilbab dan keluar dapur menuju halaman depan.
Mataku terbelalak melihat dua lelaki yang sedang berdiri di depanku. Aku mengenal mereka. Alvin bersama Ryan. Ya Allah, entah kenapa airmataku berhamburan keluar. Kututup mulutku agar tak terdengar suara isak yang berusaha kutahan.
“Assalamualaikum.” Salam itu keluar dari mulut mas Ryan.
Perlahan aku mendekati lelaki dengan kruk di kaki kanannya itu. Kutatap wajah yang sering kujumpai di acara bedah novelku. Dia tersenyum teduh dengan mata yang masih sayu, dan beberapa detik kemudian kulihat airmata mengalir di pipinya. Tatapannya terhadapku sangat dalam. Aku bisa merasakan harapan besar di sana, bahkan mungkin rasa yang ingin ia ungkap.
“Maafkan aku.” Ucap mas Ryan tertunduk.
Aku tidak bisa menahan airmataku lagi. Tubuhku terguncang dan suara isak itu berhamburan keluar.
“Apakah, niat itu masih ada untukku?” tanyaku
Mas Ryan mengangkat wajahnya. Nampaknya ia terkejut dengan pertanyaan itu, hingga airmata itu bisa kulihat kembali.
“Apakah dengan keadaanku seperti ini, kau bisa menerimaku?”
Aku hanya mengangguk, dan seketika itu tubuh mas Ryan terjatuh. Dalam keadaan payah ia berusaha bersujud syukur. Mencium tanah di depannya sambil menangis, dan ketika itulah aku tau betapa ia serius padaku, dan pula aku tau bahwa dia memang skenarion indah yang Allah tuliskan untukku.
Maka sejak saat itu, kutata ulang waktuku kembali, dan kuserahkan penuh padanya. Kupersembahkan hidupku setelah ijab dan qabul itu berlangsung.



Jember, 30 November 2013.
Juara 1 Lomba Cerpen LeutikaPrio 2014


 



Bella


BELLA
Ulin Nurviana


Tanganku masih menggenggam Sphygomomanometer atau tensimeter. Beberapa saat yang lalu seorang pasien telah usai kuperiksa. Masih kuingat betul berapa tekanan darahnya. Tidak baik, karena dibawah normal. Tidak jelas siapa pasien terakhirku, namanya saja susah kuingat. Aku bukan dokter yang mudah menghafal nama-nama pasienku, bahkan pasien inap yang berada dalam pengawasanku saja hampir tak bisa kuingat betul namanya. Hanya beberapa kali kusebut namanya, itu pun menengok catatan identitas yang dibawa perawat. Ah, aku pun tidak tau ada apa dengan kemampuanku menghafal nama orang, karena sejak kecelakaan itu semua begitu sulit.
Kuputuskan untuk keluar ruangan. Terlalu lama di ruangan bisa mencekik leherku. Aku tidak begitu suka berlama-lama di rumah sakit. Jika jam kerjaku sudah habis, aku segera pulang, tapi kali ini sesuatu menjebak dan menahanku agar tetap di tempat penuh obat itu. Hujan di luar begitu deras. Tak ada kesempatan untuk menerjangnya, terlalu deras. Apalagi kilatan petir sahut-sahutan di langit sana.
“Ah, sial..” gerutuku sambil menyilangkan tangan di depan dada.
Kulirik kursi tunggu yang berderet di koridor rumah sakit. Masih terlihat keluarga pasien setia menunggu di sana. Koridor kian penuh, karena nyaris semua orang yang berada di luar masuk di dalam gedung rumah sakit, sehingga setiap kursi tunggu yang disediakan penuh. Bahkan ada yang rela duduk di lantai. Ah, aku makin tidak suka dengan pemandangan ini, maka kuputuskan untuk berjalan menuju belakang rumah sakit.
Mataku menyapu taman belakang. Warna tanaman kian kabur akibat derasnya hujan. Tidak ada bedanya dengan pemandangan di depan, hanya saja di sini tak kutemukan banyak keluarga pasien yang memenuhi kursi tunggu, hanya beberapa pihak rumah sakit yang berjalan kian kemari. Di tempat ini lah aku bisa menarik napas lega, dan melempar tubuhku di atas kursi tunggu. Memejamkan mata sejenak sambil bersandar. Setidaknya aku bisa mencuri waktu tidur selama beberapa menit.
“Permisi, boleh kah saya duduk.” Spontan suara itu mengejutkanku. Seorang wanita berbalut baju pasien sedang berdiri di sampingku. Menatap dengan penuh harap agar aku mau membagi tempat duduk denganya.
Kubalas tatapannya. Sepertinya tidak asing. Ya, aku ingat wajah wanita ini. Dia pasien terakhir yang kuperiksa tekanan darahnya. Setengah jam sebelum kakiku sampai di tempat ini. Kuarahkan pandanganku menuju kakinya. Sudah kuduga, dia pasti memaksakan diri keluar dari kamar inapnya.
“Silahkan.” Kataku sambil menggeser tubuhku.
Wanita itu segera duduk dan menyelipkan kedua tangannya di antara kedua lutut. Nampaknya ia kedinginan. Terlihat tubuhnya gemetar.
“Kenapa kau keluar dari kamarmu?” tanyaku masih menatapnya.
“Kau bicara dengan siapa?”
Aku kaget. Dia bertanya begitu tanpa melihatku. Pandangannya tertuju pada lebatnya hujan di luar sana. Hei, apa dia tidak tau kalau aku seorang dokter? Kalau setengah jam yang lalu aku memeriksa keadaannya.
“Tentu saja bicara denganmu. Tidak ada orang lain di sini selain kita.” Sahutku sedikit emosi.
Tidak ada jawaban. Wanita itu bahkan tidak memberi isyarat apa-apa. Seolah-olah tidak ada aku di sana. Benar-benar membuatku jengkel. Aku bermaksud mengatakan sesuatu, tapi sebelum suara itu sempat keluar, tiba-tiba tubuhku menegang. Kutangkap butiran bening yang meluncur di pipi wanita itu. Ada apa? Kenapa dia menangis?
“Jangan mengajakku bicara!” katanya ketus.
Kutarik napas. Membiarkan dia menangis tanpa kutahu sebabnya. Sebenarnya aku ingin bertanya, melihat tubuhnya gemetar seperti itu, tapi lagi-lagi aku terlalu naïf untuk sekedar menyodorinya tisu. Ini sangat konyol. Wanita itu terus menguras airmatanya, sedang aku duduk diam di sampingnya.
“Berhentilah menangis! Ini sangat tidak nyaman bagiku.”
“Kau seorang dokter kan?”
“Apa?” aku segera mengarahkan pandanganku padanya. Wanita itu menoleh ke arahku. Bisa kulihat matanya mulai membengkak. Entah berapa lama dia menangis, tapi rona wajahnya sudah buram. Tak terlihat kecerahan lagi seperti terakhir aku melihatnya.
“Kau tidak ingat? Aku yang memeriksamu setengah jam yang lalu.”
Wanita itu menggeser posisi duduknya. Menghadap wajahku. Menatapku tajam, dan mencengkeram kedua lengan tanganku. Aku tidak tau apa maunya, tapi sorot matanya menunjukkan suatu kebencian yang teramat sangat. Entah pada siapa.
“Kenapa aku harus mengalaminya? Aku tidak pernah melakukan perbuatan hina itu, tapi kenapa aku harus mengidap penyakit mengerikan itu, kenapa?” nada suaranya kian meninggi pada kalimat terakhir. Airmatanya masih deras mengalir.
“Apa maksudmu?”
“Aku seorang ODHA.” Katanya lirih dengan kepala tertunduk.
Mataku melotot kaget. ODHA? Kuraih kedua tangannya yang masih mencengkeram lenganku.
“Apa maksudmu? Katakan dengan jelas!”
“Dua tahun lalu, aku mengalami kecelakaan. Aku kehabisan banyak darah, dan dokter yang menyelamatkanku. Dia telah memasukkan darah bercampur virus HIV ke dalam tubuhku. Dokter itu yang menyebabkan aku seperti ini. Dia pasti ingin membunuhku secara perlahan.” Tuturnya penuh emosi.
Kini tubuhku menegang. Labirin-labirin memori masa lalu mulai terbuka secara perlahan, membuat keringat dingin merayap-rayap dalam tubuhku. Apa yang wanita itu katakan, persis seperti peristiwa yang kualami. Lebih tepatnya kesalahan besarku sebagai seorang dokter.
Dua tahun lalu, ketika hujan deras mengguyur kota Malang. Sebuah mobil ambulance membangunkan dan memaksaku datang ke rumah sakit untuk melakukan operasi. Padahal saat itu kondisi tubuhku sedang tidak stabil akibat sering piket malam di rumah sakit. Tidak begitu jelas wajah pasien yang kutangani saat itu, karena wajahnya bersimbah darah. Kecelakaan itu telah membuatnya membutuhkan berkantong-kantong darah.
Pasien itu telah mendapatkan donor darah cukup banyak dari para kerabatnya, tapi masih kekurangan, sehingga pada kantong darah yang terakhir aku tak memastikan steril dari virus atau tidak. Kondisi saat itu sangat darurat. Bahkan aku tak yakin dia masih bisa selamat dari maut. Aku tidak ingat siapa pendonor terakhir untuknya, karena yang kupikirkan ketika itu pasien harus selamat dan mendapat transfuse darah dengan golongan yang sama. Aku baru menyadari adanya virus HIV dalam darah tersebut beberapa jam setelah pasien mendapatkan seluruh kantong darah yang ia butuhkan.
Gemetarlah tubuhku. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa, hanya bisa berharap semua itu salah. Hanya bisa berdoa semoga virus itu tidak membunuhnya, meskipun dalam diriku aku merasa seorang pembunuh. Dan pasien itu, apakah dia wanita yang saat ini menangis di hadapanku?
Hujan masih mengguyur kota Malang. Makin tak bisa kudengar wanita itu berkata apa, memaki apa dan berteriak dengan kalimat bagaimana. Tubuhku gemetar penuh ketakutan.
“Tidak mungkin..”
“Dokter, apakah aku akan mati dengan virus ini? Kata orang aku akan mati. Apa itu benar?” tanyanya dengan airmata yang kian membuatku perih.
Kutatap wajah kusut itu. Melihat airmata yang terus membanjiri pipinya membuatku kian merasa bersalah. Aku bahkan tidak tau harus berbuat apa. Jika memang pasien dua tahun lalu adalah wanita ini, maka aku bersedia bertanggung jawab. Meskipun aku tau tidak akan membuang virus itu dari tubuhnya, tapi aku. Aku bersedia mengabdikan hidupku untuk merawat dan menjaganya.
“Kenapa kau diam dokter?” tanyanya setengah berteriak.
Aku tertunduk. Airmataku mengancam keluar. Rasanya aku ingin menghisap virus itu dari tubuhnya, ingin menguras habis, agar penyesalan dan rasa bersalah tidak membunuh malam-malamku.
Di hari-hari berikutnya aku berusaha mencari identitas lengkap dan kecelakaan yang pernah wanita itu alami dua tahun lalu, dan ternyata apa yang kutakutkan benar adanya. Dialah pasien yang kutangani dua tahun lalu. Lemas sudah tubuhku. Bagaimana caranya aku mengatakan kalau dokter itu adalah aku? Aku yakin dia akan membenciku dan tidak mengizinkanku bertanggung jawab. Tubuhku merosot dan jatuh ke lantai. Tak ada yang bisa kulakukan selain menangis menyesal.
oOo

Halte jalan Tlogomas, Malang
Hujan akhir-akhir ini menyerang kota Malang. Beberapa hari ini matahari enggan muncul. Bahkan pagi buta pun langit sudah nampak mendung. Kalau sudah begitu, jalan raya kian macet. Kali ini aku benar-benar harus mempertebal kesabaran saat mobilku nyaris tak bisa bergerak seinci pun. Terlalu lama jika menunggu kemacetan ini berakhir, maka aku putar balik arah kemudi mobil dan mencari jalan lain menuju rumah sakit.
Mendadak aku mengerem laju mobil saat mata ini menangkap sosok wanita itu. Ia sedang duduk sendirian di sebuah Halte. Mungkin sedang berteduh. Kuamati ia dari dalam mobil. Sesak, aku merasa ada yang perih saat melihat wajahnya. Tidak ada senyum di sana.
“Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?”
Kuputuskan untuk keluar dari mobil dan mendekatinya. Aku berlari menerobos hujan menuju Halte. Tidak ada reaksi, wanita itu masih diam dengan pandangan kosong. Bahkan ketika tubuhku telah sampai di depannya pun masih tidak ada pandangan yang mengarah padaku.
“Bella..” kusebut nama itu. Begitu berat.
“Dokter..”
Kujongkokkan tubuhku di depannya. Meraih kedua tangannya yang begitu dingin, dan dia melihatku penuh kebingungan.
“Jika kau menemukan dokter itu. Apa kau akan memaafkannya?”
Dia terdiam. Tangannya gemetar dan segera ia lepaskan dari genggamanku.
“Apa kau orangnya?”
Aku tertunduk, dan entah pada detik keberapa airmataku meluncur. Bella mendorong tubuhku hingga aku tersungkur. Ia menangis meronta. Menggoyangkan tubuhku, dan memaksaku untuk mengatakan semua. Sedang aku masih bungkam. Tak tau harus memulai dari mana. Bahkan kalimat awal pun aku tidak punya. Namun Bella, ia masih memaksaku untuk jujur. Berulang kali menjatuhkan tubuhku saat aku berusaha bangun.
“Katakan dokter! Katakan  bahwa dokter itu kamu!” perintahnya setengah berteriak.
Perlahan aku mengangguk, dan seketika tubuh Bella terjatuh. Ia menangis berlutut di depanku. Tidak ada suara, hanya guncangan tubuh yang kian merobohkan pertahananku untuk tidak menangis. Melihat dia menangis sungguh menyiksaku. Hujan hari ini menjadi saksi atas kejujuran pahit yang menyiksaku dan dirinya. Perempuan yang baru kukenal seminggu lalu telah kulepuhkan penyakitnya, hingga tidak tau di mana obat untuk mengeringkannya.
“Aku akan bertanggung jawab, Bella. Aku akan menjagamu.”
“Tidakk!!” teriaknya
“Aku tidak mau dikasihani oleh orang yang menghancurkan hidupku. Tidak sama sekali.” Tegasnya, lalu berlari pergi menerjang hujan menuju entah ke mana.
Airmataku kembali tumpah. Kurasakan perih yang membuat napasku sesak. Sudah kuputuskan untuk bertanggung jawab. Aku tau ini akan menjadi perjalanan panjang nan melelahkan, tapi semua adalah kesalahanku. Aku akan datang lagi pada wanita itu. memohon hingga tidak tau caranya pulang. Meskipun aku akan mengalami ribuan penolakan bahkan cacian atau pukulan, aku tidak akan berhenti. Keputusan ini sudah kuambil sejak dua tahun lalu, dan aku tidak akan pernah menyesal.


Jember, 25 Februari 2014
Aku masih setia menjagamu
 juara 3 lomba cerpen Pena House









Selasa, 01 Desember 2015

Cek Update

You Can-
03/12/2015

Kamis, 11 September 2014

THE POOR MAN

THE POOR MAN
Ulin Nurviana


Jalan Teuku Umar, Batam pukul 21.00 WIB
Dua, tiga detik berlalu. Darah segar masih mengalir dari balik tangan kanannya yang besar. Garis-garis biru di punggung tangannya tak lagi mampu kulihat. Kulit berwarna coklat pekat itu telah bersimbah darah. Sepuluh menit yang lalu telah terjadi perkelahian dahsyat, dan lelaki di depanku ini tengah mengalami kekalahan.
“Dasar bajingan!” umpatnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang terluka.
Aku hanya terdiam sambil terus menatap wajahnya yang kian padam. Bisa kulihat luapan emosi yang tak lagi bisa ditahan. Memang sudah menjadi kebiasannya berkelahi, tapi baru kali ini kulihat tetesan darah keluar dari kulit tubuhnya. Aku tidak yakin lelaki yang mengalahkannya itu akan selamat. Satu jam lagi pasti akan kembali terjadi perkelahian.
Lihat saja cara dia berpakaian. Benar-benar seperti berandalan. Kaos oblong berwarna hitam dengan gambar tengkorak, celana jins sobek di kedua lututnya dan rantai yang menggantung di pinggangnya. Satu lagi, model rambut metal yang membuat siapapun melihat bakal kabur. Aku tak pernah mengira dia bisa bertahan dengan penampilan urakan semacam itu. Padahal lingkungannya cukup agamis. Kuakui dia memang Bad Boy sejati. Cukuplah perkelahian menjadi aktivitasnya sehari-hari.
“Apa yang kau lihat?” pertanyaan meluncur dengan volum cukup keras. Seolah-olah aku ini musuhnya.
Kualihkan pandanganku pada tangan kanannya. Aku tak sudi untuk menyodorinya saputangan atau tawaran untuk memberikannya obat. Tidak sama sekali. Aku sudah tidak peduli dengan apapun kondisinya sejak dia memutuskan untuk menjadi metal. Kulemparkan senyum sinis sebagai jawaban atas pertanyaan itu.
Kedua matanya menyipit dan giginya menggegat. Kurasa dia tidak suka dengan caraku tersenyum. Whatever, bukan urusanku sekalipun dia menghajarku.
“Aku tidak suka dengan caramu hidup.” Kataku dengan mata tajam menatap.
Alis mata yang bertaut itu telah menjauh. Aku tidak tau apa yang ia pikirkan, tapi wajahnya yang hampir terbakar emosi itu perlahan berubah. Mata elangnya seolah-olah bertanya, tapi mulutnya bungkam. Hanya tangan kanan yang berusaha didekap erat oleh tangan kirinya.
“Aku tidak akan peduli lagi denganmu, De.” Kataku lalu mulai beranjak dari bibir trotoar.
Kuputuskan untuk melangkah pergi, tapi ada cengkeraman erat menahan tangan kananku hingga aku menghentikan langkah. Kuarahkan mataku pada wajahnya. Ada genangan airmata di sana. Entah kenapa tubuhku seketika merasakan kedinginan yang luar biasa.
“Jangan seperti ini, Dan.” Suara bariton itu terdengar lebih pelan.
Aku diam, menunggu dia mengatakan hal yang lain. Kuyakin ada banyak hal yang ingin ia sampaikan setelah setahun ini kita tidak saling sapa. Ya, sejak dia menjadi metal, aku memang tak sudi untuk berteman lagi dengannya. Bukan karena aku tidak suka, tapi aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran.
“Kau tidak tau alasanku berubah.” Tambahnya
Kutarik napas panjang. Perlahan kukibaskan tangan kananku agar cengkeraman itu terlepas.
“Bukan alasan yang ingin kudengar, tapi kesadaran dari hatimu. Kau tidak bisa kabur dari masalah dengan cara seperti ini.” Kataku sambil mencoba melepaskan tangan kirinya yang tak mau terlepas meskipun berusaha kukibaskan.
Kini airmata yang terbendung itu telah meluncur. Ya Tuhan, aku merasa ada sesuatu yang sesak di dadaku. Melihat seorang lelaki yang kukenal begitu tegar tengah meneteskan airmata di depanku.
“Aku mohon jangan pergi. Jangan menghindar lagi. Aku butuh kamu, Dan.” Suaranya kian parau.
Perlahan kucoba untuk mengukir senyum, dan cengkeraman tangan kuatnya telah mengendor. Di saat itulah kuputuskan untuk melangkah pergi. Aku sengaja untuk mengabaikan permintaannya, agar ia tahu bagaimana kehidupannya selama ini yang tak satupun orang bisa terima.
Satu langkah. Kupikir aku bisa meninggalkannya lebih jauh, tapi sebuah pemandangan munafik kusaksikan di depanku, dan aku yakin Dean pun menyaksikannya. Seorang lelaki sedang keluar dari Kawasan Nagoya Hill bersama wanita seksi menuju sebuah mobil putih yang terparkir tak jauh dari tempat kami berdiri. Lelaki itu adalah ayahnya Dean. Ayah yang telah melumpuhkan kaki ibunya. Seketika itu aku berbalik untuk melihat keadaan Dean, dan ternyata apa yang kukhawatirkan terjadi. Aura panas bak pembunuh keluar dari wajahnya. Kedua tangannya saling mencengkeram hingga tetesan darah berjatuhan di aspal jalan.
“Jangan De..” gumamku sedikit takut melihat mata elang itu.
Perlahan Dean berjalan menghampiri ayahnya. Bisa kurasakan hembusan angin pembunuh saat tubuh jangkung berparas oriental itu lewat di depanku. Tanganku berusaha meraih lengannya agar ia berhenti, tapi gagal. Aku merasa tubuhnya sukar kusentuh, padahal jarak antara kami amat dekat. Aku merasa Dean makin jauh dan makin jauh hingga membuat dadaku sesak.
“De..” suaraku parau.
Kini aku tak bisa untuk mengabaikannya. Aku yakin lelaki itu akan menghabisi ayahnya. Dendam atas sikap bajingan ayahnya telah nengakar di hatinya. Ayahnya telah mencampakkan dia dan ibunya, hingga ia hidup berantakan seperti saat ini.
Tanpa pikir panjang, pukulan melayang menebas wajah ayahnya hingga lelaki itu tersungkur tak berdaya. Sedang wanita yang bersama ayahnya berteriak ketakutan.
“Dean..” suara ayahnya tercekat dengan mata terbelalak kaget.
“Jadi begini cara ayah hidup di jalanan?”
“Jaga mulutmu!” bentak ayahnya sambil mencoba berdiri dan mengusap darah yang keluar dari mulutnya.
Sorot mata itu makin tajam. Ia tak lagi peduli dengan darah yag terus mengalir dari tangan kanannya. Sedang ayahnya berusaha merogoh handphon di saku kemejanya. Entah siapa yang ia telpon, tapi nampaknya ia sedang mencari bantuan. Namun sebelum suara itu keluar dari mulutnya, Dean sudah menangkis handphon yang ia genggam sehingga handphon itu terlempar.
“Apa kau ingin membunuhku?” tanya ayahnya mulai gentar.
“Iya, sebagai balasan atas perbuatanmu padaku dan Ibu.” Sekali lagi pukulan keras melayang menerpa wajah ayahnya hingga kembali tersungkur. Kali ini tidak ada maaf lagi, Dean berusaha terus memukul, ayahnya bagaikan sekarung sekam yang siap ia hancurkan. Beberapa kali aku berteriak untuk menghentikan semua, tapi sekeras apapun aku bersuara tidak akan tertangkap oleh telinganya. Dia seperti mesin pembunuh yang siap membasmi musuhnya.
“Ini balasan atas perbuatan hinamu.” Pukulan kali ini mematahkan gigi taring ayahnya, hingga ia kian tak berdaya. Tak ada lagi tenaga untuk sekedar berteriak meminta tolong.
“Cukup Dean!” teriakku sambil menahan tangan kanannya yang hendak kembali memukul.
Dean menatapku. Sorot matanya penuh luka dan kebencian. Aku bisa merasakan kerasnya hidup dari wajahnya. Ia mencoba mengibaskan tangan kanannya yang kucengkram kuat, tapi aku masih berusaha bertahan. Aku memang tidak sekuat dirinya, tapi aku tidak mungkin membiarkan dia menghajar ayahnya hingga sekarat.
“Untuk saat ini saja, Dean. Kumohon jangan.” Aku berharap dia bisa mengerti, sekalipun aku harus berlutut agar dia menghentikan semua.
Sorot mata itu meredup, dan entah kenapa aku merasa tubuhku memanas seketika. Tanpa kusadari airmataku meleleh. Aku mengetahui Dean sepenuhnya, hingga saat ini belum sekalipun aku melihat ia hidup seperti para lelaki lainnya. Ia hidup dalam lingkaran permasalahan keluarga yang rumit. Tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah, dan ibunya sedang lumpuh akibat ulah ayahnya. Ya Tuhan, kenapa baru saat ini aku menyadari bahwa Dean sangat membutuhkan teman.
“Dania..” suara lirih itu mampu kutangkap, dan perlahan tangan kanannya terjatuh.
Aku tertunduk menumpahkan airmata, dan di waktu yang sama mobil polisi datang. Aku tidak tau siapa yang telah memanggil polisi, tapi mereka telah menarik tubuh Dean dari hadapanku. Dean tidak melawan para polisi itu, ia hanya terus menatapku. Mungkin berharap aku mengatakan sesuatu, tapi mulutku bungkam seribu bahasa. Hanya airmata yang enggan untuk terbendung.
Perlahan polisi itu memasukkan tubuh Dean dengan paksa pada mobil patroli itu. Di detik-detik itulah aku merasa sangat perih dan menyesal, hingga aku menyadari bahwa aku tak ingin kehilangan Dean.
oOo

Polsek Teluk Tering, Batam kota
Dari hasil interogasi dari pihak kepolisian, maka Dean dinyatakan telah melakukan penganiyayaan yang disengaja, sehingga berdasarkan KUHP pasal 352 maka Dean mendapat hukuman tiga bulan penjara. Lemas sudah tubuhku mendengar hal itu saat mengunjunginya di kantor polisi. Tanpa pikir panjang, aku meminta izin untuk menemui Dean.
Kutarik napas saat kaki ini telah sampai di pintu besi di salah satu sel. Kulihat Dean duduk memeluk kedua lututnya dengan wajah tertunduk. Aku tak mampu untuk sekedar memanggil namanya. Terlalu berat beban ini untuknya. Seandainya ayahnya mencabut tuntutan dia terhadap hukuman Dean, mungkin dia tidak perlu menjalani hidup dalam jeruji besi. Sungguh kejam lelaki itu, sudah merampas seluruh kebahagiaan yang selama ini Dean bangun bersama ibunya.
“De..” suaraku lirih memanggilnya.
“Dania..” ia bergegas menghampiriku.
Airmataku tumpah melihat wajahnya kian lusuh. Terlalu banyak beban, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Namun entah kenapa ia justru tersenyum menatapku.
“Terima kasih, Dania.”
Aku menelan ludah yang terasa pahit.
“Terima kasih, karena kau masih peduli padaku.” Cecernya dengan bendungan airmata yang akan tumpah.
Aku menutup mulut. Tubuhku terguncang karena menahan isak. Tidak ada kata yang bisa kuucapkan.
“Selama tiga bulan kedepan, tolong jaga Ibu.”
Aku hanya bisa mengangguk, dan dia tersenyum sambil meraih tangan kirinya yang memegang salah satu jeruji besi.
“Kau tidak membenciku kan, Dania?” pertanyaan itu meluncur seiring dengan airmata yang meleleh di pipinya, dan kujawab pertanyaan itu dengan butiran airmata yang kembali mengalir di pipiku.




Jember, 30 November 2013
Untuk sahabat, kutahu kau paling mengerti.